Esai tentang Kesehatan Mental
Kesehatan mental masih sering dinomorduakan karena mayoritas orang lebih mengedepankan kesehatan fisik daripada kesehatan mental dan tidak mengetahui bahwa kesehatan mental jugalah penting. Padahal, keduanya sama-sama memiliki peran vital di dalam kehidupan kita. Di Indonesia juga masih memiliki stigma bahwa jika seseorang memiliki gangguan mental merupakan aib yang harus ditutupi, padahal jika tidak segera menemui tenaga professional kesehatan mental yang tidak diperhatikan dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan fisik juga. Sebagai konsekuensinya, risiko seseorang terhadap berbagai penyakit fisik atau kondisi tertentu pun meningkat akibat kesehatan mental yang buruk.
Berdasarkan riset kesehatan dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, angka prevalensi gangguan jiwa di Indonesia, meningkat secara tajam dari 1,7% di 2013 menjadi 7% di 2018. Banyak faktor yang dapat menjadi pemicu meningkatnya masalah mental seseorang seperti pekerjaan, hubungan keluarga atau pasangan, serta ujian hidup yang kadang berat untuk dijalani. Dengan adanya bukti dari riset tersebut, membuktikan bahwa kesehatan mental memang sangatlah penting dan masyarakat sudah seharusnya mulai peduli. . Apalagi di zaman sosial media atau digital seperti sekarang, masyarakat dari berbagai umur dan kalangan sangat aktif menggunakan sosial media yang tak jarang dapat mengubah suasana hati atau perilaku seseorang. Maka menjaga kesehatan bukan hanya dari fisiknya saja tetapi kesehatan mental juga harus dijaga, supaya menjadi penyeimbang dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Menurut WHO, anak muda atau generasi Z saat ini lebih rentan terkena gangguan mental, karena masa muda adalah waktu di mana banyak perubahan dan penyesuaian terjadi baik secara psikologis, emosional, maupun finansial. Misalnya upaya untuk masuk dan lulus kuliah, mencari pekerjaan, atau mencicil kebutuhan hidup seperti mobil, rumah, dan lainnya selain itu, hal yang menyebabkan generasi Z lebih rentan terkena gangguan mental yang dialami banyak orang dalam generasi Z disebabkan oleh beberapa hal. Peningkatan angka bunuh diri, peningkatan laporan terhadap kasus kekerasan dan pelecehan seksual, hingga pemanasan global dan perubahan iklim adalah beberapa faktor pemicu stres generasi Z. Banyak dari contoh yang telah disebutkan merupakan hal-hal yang baru muncul seperti perubahan iklim dan pemanasan global dan hal-hal yang sedang marak terjadi. Akhir-akhir ini anak muda juga dibuat bingung dengan pilihan untuk menjadi feminis atau tidak, dan merasa orientasi seksualnya berbeda dengan mayoritas orang.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2018, menujukkan bahwa sekitar 12 juta penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas menderita depresi. Hal ini merupakan dampak kemajuan teknologi, salah satunya penggunaan media sosial. Media sosial menciptakan standar gaya hidup yang sebenarnya tidak seindah kenyataan. Hal ini menjadi tekanan dan beban pikiran yang dialami para generasi muda. Terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh anak muda untuk menjaga kesehatan mentalnya, beberapa studi menunjukan bahwa orang yang melakukan olahraga secara rutin akan mendapatkan energi, pikiran dan suasana hati yang postif. Oleh sebab itu, pentingnya kesehatan mental dan fisik mendukung aktivitas kita sehari – hari. Pastinya kita akan merasa lebih berenergi dan lebih bersemangat dalam menjalani kehidupan ini. Untuk siswa sekolah atau mahasiswa jika memiliki masalah atau hal yang tidak dapat atau ragu untuk diceritakan kepada orang tua atau orang terdekat, biasanya sekolah menyediakan layanan guru bimbingan konseling (BK) dan kampus juga menyediakan layanan konseling, sehingga tidak ada alasan lagi untuk memendam semuanya sendiri.
Nama : Letizia Nahla Waskito
NIM : 20511010107111036
Fakultas : Ilmu Budaya
Prodi : Sastra Inggris
Universitas Brawijaya
Komentar
Posting Komentar